Perkembangan Teknologi Komunikasi Interpersonal & Nirmassa
Perkembangan media isyarat
Isyarat
sebagai media pertama yang dimiliki oleh manusia samapai saat ini
tetap digunakan sebagai media komunikasi, bahkan beberapa isyarat
merupakan bahasa alami manusia sebagai ekspresi dan pengejawantahan
kondisi psikologis manusia. Umumnya media isyarat menggunakan dua alat
yaitu bagian tubuh manusia atau alat lain sebagai alat bantu diluar
bagian tubuh manusia seperti bendera, asap, tongkat dan sebagainya.
Media Isyarat asap dan api
Pada
awalnya penggunaan isyarat diciptakan pada jaman Yunani masa
pemerintahan raja Darius I (522 –486 SM) ketika mengalami kesulitan
dalam pengiriman pesan berita kepada
propinsi-propinsi di bawah
kekuasaannya yang tersebar dari sungai Indus hingga Danube. Isyarat
yang digunakan adalah dengan menyuruh orang berdiri di ketinggian dan
menyalakan api. Melalui asap yang ditimbulkan tercipta beberapa pesan
yang diterima 30 kali lebih cepat daripada menggunakan kurir yang
berlari secara marathon. Cara yang sama juga dilakukan oleh bangsa Gaul
(Viking) pada jaman Julius Caesar dan bangsa Indian di Amerika. Media
isyarat api ini hanya bisa digunakan dalam kondisi cerah tidak hujan.
Yang bisa mengartikan hanyalah orang-orang yang berada pada kelompok
pengguna isyarat tersebut. Media
isyarat asap hanya efektif digunakan untuyk mengirim pesan-pesan singkat.
Media isyarat semaphore
Semaphore
adalah cara berkomunikasi melalui isyarat 2 bendera ditangan dengan
cara menggerakkannya dengan berbagai variasi posisi-posisi tertentu
yang memiliki arti huruf, angka dan isyarat khusus. Perkembangan
semaphore juga muncul pada masa Yunani dan Romawi. Ketika ditemukannya
telescope pada tahun 1600, semamphore mampu mengirim pesan lebih jauh
lagi dengan cara sistem berantai. Media semaphore mampu digunakan dalam
kondisi cuaca cerah. Pesan efektif yang dikirimkan relatif hanyalah
pesan singkat dan mudah dipahami karena pesan dapat diulang dengan
standard pesan yang sama. Secara internasional isyarat semaphore
memiliki kesamaan variasi posisi yang berarti sama dalam arti dan makna
Jika peralatan elektronik tidak dapat digunakan, dalam kondisi survive
semaphore digunakan untuk mengirim pesan dari jarak jauh. Pada saat
ini media semaphore masih digunakan oleh kalangan dinas angkatan laut
dan kegiatan kepanduan.
Perkembangan media telegraf
Telegraf
dalam bahasa Yunani memiliki arti sebagai menulis dari jauh. Dengan
demikian pengertian dari telegraf adalah sistem komunikasi yang
menggunakan transmisi signal yang memiliki arti huruf, angka dan tanda
baca. Telegraf adalah media telekomunikasi pertama yang ditemukan di
dunia ini. Penemuan telegraf merupakan invensi dari penemuan sebelumnya
yang dilakukan oleh ALESSANDRO VOLTA dan ANDRE’ MARIE
AMPERE yang
menemukan arus listrik lemah. Sebelum kode morse ditemukan oleh
ditemukan oleh SAMUEL FINLEY BREESE MORSE (1791-1872). Pada tahun 1794
seorang insinyur Perancis membuat menara setinggi 5 – 10 meter . Pada
menara tersebut terdapat dua tuas besi yang bila di pertemukan akan
menghasilkan percikan listrik. Percikan inilah digunakan sebagai
isyarat dalam berkomunikasi. Kemampuan yang dimiliki Chappe’s semaphore
dapat mengirim
pesan dalam 2 menit dengan jarak 230 km dari Lille ke Paris. Jarak interval masing-masing
menara berkisar 8 hingga 16 km.
Pada
tahun 1832 sepulang dari Inggris Samul Morse memiliki ide untuk membuat
mesin sebagai penyempurnaan chappe semaphore. Ia percaya bahwa
percikan listrik mampu membawa signal-signal listrik. Percikan listrik
tersebut di rubahnya dalam bentuk kode sederhana dengan menggunakan
simbol titik dan garis yang direkam dalam kertas digerakan sistem
elektromagnetik. Pada tahap awal Morse hanya bisa menyampaikan pesan
sejauh 32 km atau 20 mil percoban ini dianggap sebagai embrio lahirnya
mesin telegraf
Sebagai media pesan media telegraf adalah media
yang efektif dalam penyampaian pesan jarak jauh, namun yang bisa
mengirim dan menerima pesan tersebut hanyalah orangorang yang paham dan
hapal kode morse. Jika untuk keperluan inteligence atau peperangan
maka kode morse ini bisa digunakan agar pesan rahasia tetap terjaga.
Pada
saat sebelum telegraf di temukan dan mesin telephone belum
memasyarakat maka telegraf menjadi primadona untuk menyampaikan pesan
jarak jauh. Umumnya telegram diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa
karena umumnya pula telegram selalu berisi pesan penting. Perkembangan
selanjutnya kemajuan teknologi telegraf melahirkan
berbagai media baru seperti :
a. Teleprinting fungsi kerjanya sama dengan telegraf hanya pesan yang diterima
dalam bentuk kata bukan kode atau tanda. Pengirimannyapun juga
menggunakaan keyboard huruf bukan menggunakan tombol penghasil bunyi.
b. facsimile adalah telegraf generasi otomatis yang mampu mengirim dan menerima
data serta gambar
Kini kode morse dapat diterima oleh komputer dengan cara memasukkan software
penerima kode morse (morse decoder). Adapun kode yang dihasilkan serta tampilan
sotwarenya bentuknya adalah sebagai berikut :
Perkembangan media telepon
Telepon
adalah instrumen yang dapat mengirim dan menerima pesan suara dan data
melalui tenaga elektrik. Telepon merupakan alat telekomunikasi ke dua
setelah telegraf, dan penggunaannnya hanya beisi pesan. Umumnya telepon
digunakan untuk melakukan komunikasi biasa, bisnis serta keperluan
emergency seperti gangguan keamanan ( kode 911).
Saat ini telephone juga dimanfaatkan untuk keperluanmelakukan dial up untuk akses
internet
ditambah modem. Secara kronologis telepon ditemukan oleh Alexander
Graham Bell (1847 – 1922) secara tidak sengaja. Ia sebenarnya melakukan
percobaan pembuatan mesin telegraf yang dibantu oleh assistennya
Thomas Watson yang berada di tempat lain. Ketika ia berbicara tanpa
sengaja suaranya di dengar oleh Watson. Kejadian ini terjadi pada
ttahun 1875. Konstruksi pertama pesawat telepon yang dibuat adalah
sangat sederhana yaitu kotak yang terdiri dari kabel koil, magnet dan
membran. Suara yang diterima pada medan magnegtic akan digetarkan dan
digaungkan oleh membran sehingga bisa ditransmisikan.
Baru pada
tahun 1876 prototype disempurnakan oleh Bell dengan design mirip
mikropon seperti sekarang ini yang terdiri dari kabel pendenggar suara
dan moncong untuk berbicara.
Teknis media telephone
Basic
teknis media telepon adalah terdiri dari transmiter yang mengirimkan
suara, receiver yang menerima suara, bebeberapa tombol nomor untuk
melakukan dial, nada ring atau
alarm serta beberapa sirkuit elektronis yang disebut sebagai antisidetone.
Telephone dan facsimile
Perkembangan
terakhir dari tenologi telepon kabel adalah digabungkannya teknologi
teleepon dengan mesin facsimile. Ara kerja dari facsimile ini adalah
meng-scan dokumen yang akan dikirim dalam bentuk elektrik impulse.
Elektrik impulse ini kemudian melewati jaringan kabel telepon yang
diterima oleh pesawat penerima dan dirubah kembali dalam bentuk
tulisan, gambr atau bentuk lainnya..
Pengertian Facsimile
Sudut
pandang ilmu komunikasi memberi batasan bahwa facsimile adalah media
komunikasi untuk mengirim, menerima dan mengcopy dokumen. Standard
kerja dari facsimile seperti kombinasi telephone dan mesin foto copy.
Setelah dokumen di scan oleh optical scanner dalam mesin fax.
Setelah
terekam maka maka dokumen tersebut berubah menjadi photoelectric cell
yang dirubah menjadi elektric impulse yang dikirim melalui kabel
telephone dan diterima oleh mesin fax penerima.
Sistem kerja komunikasi menggunakan telepon
Untuk
menyampaikan pesan melalui media telepon maka akan melibatkan banyak
hardware yang digunakan meliputi handset, stasiun kontrol pusat, kabel
perantara hingga
handset yang dituju. Namun secara sederhana cara kerja sistem komunikasi telepon adalah
sebagai berikut :
Handset
terdiri dari 2 bagian utama yaitu untuk mengirimkan pesan ( bagian
mulut ) dan bagian untuk menerima signal atau pesan ( bagian telinga ).
Bila suara diucapkan maka gelombang suara akan ditransmisikan
diaphragma yang ada dalam handset ( kotak telepon ).
Setelah itu
gelombang suara disalurkan ke jaringan kawat atau kabel yang dikontrol
oleh stasiun kontrol pusat, dan pada akhirnya diterima oleh hand set
receiver.
Sistem kerja telepon secara sederhana dapat dilihat dalam gambar berikut :
Seperti dilihat ada tiga bagian penting dalam sistem kerja telepon :
• Switch alat untuk menyambung dan memutuskan koneksi ke jaringan telepont.
• Speaker alat untuk mendengarkan suara dari pesan yang datang
• Microphone Bagian yang mengirimkan pesan dalam bentuk gelombang suara
Koneksi
yang terjadi dalam komunikasi dua arah melalui telepon sesungguhnya
merupakan bagian kecil dari jaringan telepon yang ada di dunia ini.
Telepon senyatanya merupakan media “network” atau jaringan yang
bersifat personal.
Perkembangan cordless Telephone
Cordless
telephone saat ini bukan lagi menjadi temuan atau barang mutakhir
namun penggunaannnya mampu memberikan solusi bagi pengguna yang tidak
memiliki jaringan telephone sekitarnya. Cordless telephone adalah
telephone yang bekerja tanpa kabel sehingga memberikan kebebasan pada
pengguna untuk bergerak tanpa harus terpaku di tempat pesawat
telephone.
Kelebihan yang ke dua cordless telephone ini dapat
digunakan untuk berbicara dengan lebih dari satu pesawat telephone,
paling banyak adalah sepuluh pesawat telephone. Namun kerugiaanya
karena sistem kerjanya tanpa kabel dan menggunakan frequency radio maka
banyak terdapat noise dan mudah untuk disadap atau digunakan
frequencynya tanpa ijin pemiliknya Sistem komunikasi menggunakan
cordless telephone adalah mirip stasiun mini radio. Pesan yang
disampingkan melalui handset akan dikirim dalam bentuk signal radio dan
ditransmisikan ke stasiun kontrol pusat untuk diteruskan ke nomor dial
pesawat yang dituju. Jarak terjauh yang bisa dijangkau oleh layanan
cordless telephone ini adalah sejauh dua hingga empat mile atau antara 3
hingga 10 kilometer.
Karaketristik media telephone (kabel dan cordless)
Media
telepon memiliki karakter yang bersifat personal namun dalam taraf
relatif terbatas artinya bahwa media telephone dengan sistem kabel dan
cordless tidak bersifat portable sehingga belum tentu pesan yang
disampaikan akan langsung diterima oleh person yang dituju. Dari segi
kecepatan penyampaian pesan media telepon memiliki tingkat efisien dan
efektivitas yang tinggi namun biaya yang harus dikeluarkan karena
menggunakan hitungan pulsa maka media ini masih dianggap mahal dan
hanya dimiliki oleh golongan menengah atas saja. Di Indonesia sendiri
media telepon memiliki kendala terhadap luasnya jaringan yang dimiliki
artinya masih ada daerah-daerah yang tidak tersentuh oleh jaringan
telepon.
Selasa, 15 Mei 2012
Komunikasi interpersonal
Dilihat dari jenis Interaksi dalam komunikasi, komunikasi dapat dibedakan atas tiga kategori yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok kecil dan komunikasi publik.
Apa itu Komunikasi Interpersonal :
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005,p.158-159).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000, p. 73)
Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003, p. 13).
Klasifikasi Komunikasi Interpersonal
b. Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
c. Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
d) Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari informasi mengenai suatu pekerjaannya.
Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan dipaparkan 6 tujuan, antara lain ( Muhammad, 2004, p. 165-168 ) :
a. Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.
b. Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari
atau didalami melalui interaksi interpersonal.
c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti
Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak
menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
e. Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).( Devito, 1997, p.259-264 ).
1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut.
Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.
Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).
2. Empati (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan (1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.
3. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.
4. Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.
Apa itu Komunikasi Interpersonal :
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005,p.158-159).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000, p. 73)
Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003, p. 13).
Klasifikasi Komunikasi Interpersonal
Redding
yang dikutip Muhammad (2004, p. 159-160) mengembangkan klasifikasi
komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial,
interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.
a. Interaksi intim
termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota famili, dan
orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang kuat.b. Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
c. Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui kebenarannya.
d) Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab. Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari informasi mengenai suatu pekerjaannya.
Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan dipaparkan 6 tujuan, antara lain ( Muhammad, 2004, p. 165-168 ) :
a. Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.
Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.
b. Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari
atau didalami melalui interaksi interpersonal.
c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti
Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.
d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak
menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
e. Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.
f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).( Devito, 1997, p.259-264 ).
1. Keterbukaan (Openness)
Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut.
Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.
Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain.
Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).
2. Empati (empathy)
Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.
Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan (1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.
3. Sikap mendukung (supportiveness)
Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.
4. Sikap positif (positiveness)
Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.
Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.
5. Kesetaraan (Equality)
Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan,
ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.
Senin, 14 Mei 2012
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DALAM KOMUNIKASI
ANTAR PRIBADI
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DALAM KOMUNIKASI
ANTAR PRIBADI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahluk
Tuhan yang lainnya. Manusia juga diciptakan sebagai mahluk multidimensional,
memiliki akal pikiran dan kemampuan berinteraksi secara personal maupun sosial.
Di sisi lain, kerena manusia adalah mahluk sosial, maka manusia pada dasarnya
tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendiri dalam konteks fisik
maupun dalam konteks sosial budaya.
Aktifitas interaksi sosial dan tindakan komunikasi
itu dilakukan baik secara verbal, non verbal maupun simbolis. Kebutuhan adanya
sebuah sinergi fungsional dan akselerasi positif dalam melakukan pemenuhan
kebutuhan manusia satu dengan yang lainnya ini kemudian melahirkan kebutuhan
tentang adanya norma-norma dan nilai-nilai sosial yang mampu mengatur tindakan
manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhannya, sehingga tercipta keseimbangan
sosial (social equilibrium) antara hak dan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan
manusia, terutama juga kondisi keseimbangan itu akan menciptakan tatanan sosial
(social order) dalam proses kehidupan masyarakat saat ini dan waktu yang akan
datang.
Demikian pula halnya dalam rangka menciptakan suatu
desa yang memiliki ketahanan di bidang sosial, maka dirancanglah model desa
berketahanan sosial. Model desa berketahanan sosial merupakan bentuk
transformasi sintesa konseptual sampai empirik mengenai pengembangan ketahanan
sosial masyarakat melalui pemberdayaan pranata sosial.
Unsur-unsur penting yang tertanam dalam model desa
yang berketahanan sosial melalui pemberdayaan pranata sosial, dapat disebutkan
sebagai berikut:
1. Saling percaya
2. Sistem hubungan sosial/relasi sosial (interaksi
dan komunikasi sosial)
3. Nilai dan norma
4. Wadah/jaringan
5. Pola perilaku sosial
6. Pembekalan
7. Stimulan
8. Adanya langkah-langkah pemberdayaan pranata sosial
9. Supervise, monitoring,evaluasi dan pelaporan
10. Terminasi
Untuk dapat mewujudkan desa yang
berketahanan sosial tersebut , komunikasi dan interaksi adalah salah satu
factor yang krusial. Fokus interaksi social dalam masyarakat adalah komunikasi
itu sendiri, dan komunikasi menjadi unsur penting dalam seluruh kehidupan
manusia. Pemberdayaan pranata sosial adalah salah satu upaya dalam mewujudkan
desa yang
berketahanan sosial. Dalam pemberdayaan pranata
sosial itu sendiri, terdapat komunikasi kelompok yang memfokuskan pembahasannya
kepada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi
kelompok juga melibatkan komunikasi antar pribadi.
Dalam tulisan ini saya mencoba
menggambarkan komunikasi apa yang efektif untuk dapat mewujudkan desa yang
berketahanan sosial yang salah satu upayanya adalah dengan pemberdayaan pranata
sosial. Selain itu juga dalam desa berketahanan sosial salah satu dimensinya
menyebutkan mampu memelihara kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam
dan sumber daya sosial.
Dalam komunikasi antar budaya juga
dipelajari bagaimana kita mampu memahami dan memelihara kearifan lokal
tersebut. Pada dasarnya dalam menggapai suatu tujuan yang ingin dicapai , baik
individu kelompok maupun masyarakat , yang dalam tulisan ini dititikberatkan
pada masyarakat desa dapat dilakukan, salah satunya dengan mencari komunikasi
apa yang efektif untuk mewujudkan hal tersebut
1.2. Kerangka Konseptual
Karena komunikasi menjadi unsur penting
dalam seluruh kehidupan manusia, maka komunikasi itu sendiri tidak terlepas
dari sejarah kemanusiaan Riwayat komunikasi dan Sejarah kemanusiaan Riwayat
perkembangan komunikasi antarmanusia adalah sama dengan sejarah kehidupan
manusia itu sendiri. Menurut Nordenstreng dan Varis (1973) dalam (Nasution,1989:15),
ada empat titik penentu yang utama dalam sejarah komunikasi manusia, yaitu:
1. Ditemukannya
bahasa sebagai alat interaksi tercanggih manusia
2. Berkembangnya
seni tulisan dan berkembangnya kemampuan bicara manusia menggunakan bahasa
3. Berkembangnya
kemampuan reproduksi kata-kata tertulis (written words) dengan menggunakan alat
pencetak sehingga memungkinkan terwujudnya komunikasi massa yang sebenarnya.
4. Lahirnya
komunikasi elektronik, mulai dari telegraf, telepon, radio, televisi hingga
satelit.
Berkembangnya keempat titik penentu
dalam sejarah komunikasi merupakan puncak prestos peradaban umat manusia ,
mengungguli siapapun mahluk Tuhan di alam jagat raya. Dari empat titik ini
kemudian manusia berkembang bersama semua aspek kehidupan manusia yang
membedakan dengan mahluk lainnya yaitu:
(1) manusia mampu berkomunikasi dengan
manusia lain dengan menggunakan bahasa dan simbol-simbol visual lainnya. Dalam
teori interaksi simbolis, dikatakan bahwa bentuk interaksi manusia semacam ini
merupakan bentuk interaksi terumit dan tercanggih yang pernah dimiliki oleh
mahluk mana pun di bumi.
(2) manusia mampu menafsirkan bahasa dan
simbol-simbol berdasarkan persepsi dirinya maupun berdasarkan persepsi orang
lain. Kemampuan ini merupakan puncak dari kemampuan akal dan nurani manusia
yang tidak pernah diberikan Tuhan kepada mahluk apapun di dunia dan dalam tata
galaksi manapun di alam raya ini.
(3) manusia mampu belajar menyesuaikan
dirinya dengan alam sekitarnya serta menciptakan dan menggunakan alat (teknologi
) yang diperlukan dalam mengatasi lingkungannya.
1.3. Proses Komunikasi Dalam Masyarakat
Masyarakat memiliki struktur dan lapisan
(layer) yang bermacam-macam, ragam struktur dan lapisan masyarakat tergantung
pada kompleksitas masyarakat itu sendiri. Semakin kompleks suatu masyarakat,
maka stuktur masyarakat itu semakin rumit pula. Kompleksitas masyarakat juga
ditentukan oleh ragam budaya dan proses-proses yang dihasilkan. Semakin
masyarakat itu kaya dengan kebudayaannya, maka semakin rumit proses-proses sosial
yang dihasilkan.
Berbagai proses komunikasi dalam
masyarakat terkait dengan stuktur dan lapisan (layer) maupun ragam budaya dan
proses social yang ada di masyarakat tersebut, serta tergantung pula pada
adanya pengaruh dan khalayaknya , baik secara individu, kelompok ataupun
masyarakat luas. Sedangkan substansi bentuk atau wujud komunikasi ditentukan
oleh:
(1) pihak-pihak yang terlibat dalam
komunikasi (komunikator dan khalayak);
(2) cara yang ditempuh;
(3) kepentingan atau tujuan komunikasi;
(4) ruang lingkup yang melakukannya;
(5) saluran yang digunakan; dan
(6) isi pesan yang disampaikan.
Konsep desa berketahanan social Desa
berketahanan sosial adalah desa yang masyarakatnya mampu melindungi warganya
yang rentan, miskin,dan penyandang kesejahteraan sosial lainnya, mampu
meningkatkan partisipasi masyarakatnya dalam organisasi social lokal, mampu
mengendalikan konflik social/ tindak kekerasan social dan mampu memelihara
kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam dan sumber daya social. Keempat
kemampuan tersebut merupakan dimensi atau indikator yang tertanam di dalam desa
yang berketahanan sosial. Untuk dapat mewujudkan desa yang berketahanan sosial
tersebut , komunikasi dan interaksi adalah salah satu faktor yang krusial.
Fokus interaksi sosial dalam masyarakat adalah komunikasi itu sendiri, dan
komunikasi menjadi unsur penting dalam seluruh kehidupan manusia. Dalam buku
sosiologi pedesaan menyebutkan kerangka pemikiran (Eduard sapir)
Komunikasi sebagai proses meliputi:
a. Proses komunikasi primer,berlaku tanpa alat,
yaitu secara langsung dengan menggunakan bahasa, gerakan yang diberi arti
khusus, aba-aba dan sebagainya
b. Proses komunikasi sekunder, berlaku dengan
menggunakan alat agar dapat melipatgandakan jumlah penerima pesan/amanat, yang
berarti pula mengatasi hambatanhambatan geografis (berupa radio,televisi dll),
serta hambatan waktu (berupa telepon,radio,buku). Dalam hal ini alat-alat itu
merupakan media massa.
Proses komunikasi primer mendasari pola komunikasi
tradisional atau pola komunikasi lama dan proses komunikasi sekunder mendasari
pola komunikasi baru atau pola komunikasi modern.
1.4. Jaringan Komunikasi Tradisional
Suatu jaringan komunikasi yang masih dianggap sangat
penting oleh masyarakat pedesaan; ciricirinya adalah:
a. Hubungan social antara para pelakunya berhadapan
muka
b. Hubungan social yang terjadi sifatnya mendalam
dan berlaku kepada orang-orang yang berbeda “status”. Sebagai contoh adalah
hubungan “patron-klien” atau hubungan bapak pengikut
c. Pemberi pesan/amanat dinilai oleh si penerima
pesan dari segi IDENTITASNYA dan bukan dari ISInya
d. Karena jaringan komunikasi tradisional sudah
berakhir/sudah lama berjalan, pola tersebut sanggup menyebarkan berita-berita
antara warga desanya.
Dalam mewujudkan model desa berketahanan sosial
terdapat prinsip pemberdayaan pranata social yang dalam kinerja prosesnya
ditandai sebagai kohesi konstruksi proses pemberdayaan terhadap tujuan
mewujudkan masyarakat berketahanan social. Dalam Kepmensos RI Nomor 12/HUK/2006
secara implicit terkandung prinsip, bahwa konstruksi proses pemberdayaan
pranata social yang koheren adalah segala upaya yang membangun kebersamaan atau
silaturahmi seluruh unsur masyarakat untuk mewujudkan masyarakat desa yang
berketahanan sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Komunikasi
Definisi komunikasi;
1. Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi,
gagasan dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak
hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun
penampilan diri, atau menggunakan alta bantu di sekeliling kita untuk
memperkaya sebuah pesan ( Hybels and Weafer II, 1992).
2. Komunikasi adalah pernyataan diri yang efektif ,
pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan
melalui imajinasi, pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui
percakapan atau dengan metode lain, pengalihan informasi dari seseorang kepada
orang lain, pertukaran makna antarpribadi dalam system symbol, proses
pengalihan pesan melalui saluran tertentu kepada orang lain dengan efek
tertentu
2.2. Model komunikasi Antar Manusia
Dalam kehidupan sehari-hari proses
komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang
berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain .
1. langkah pertama yang dilakukan sumber adalah ideation,
yaitu penciptaan suatu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk
dikomunikasikan. Dalam desa berketahanan social kita mencoba mengkomunikasikan
konsep desa berketahanan social tersebut dengan keempat indicator yang terdapat
didalamnya. Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan
disampaikan.
2. Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah
encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud
kata-kata, tanda-tanda atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan
informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain. Pesan atau message
adalah alat-alat dimana sumber mengekspresikan gagasan dalam bentuk bahasa
lisan, bahasa tertulis ataupun perilaku nonverbal, seperti bahasa isyarat,
ekspresi wajah, atau gambar-gambar.
3. Langkah ketiga dalam proses komunikasi adalah
penyampaian pesan yang telah disandi (encode). Pada langkah ketiga ini,
kita mengenal istilah channel atau saluran, yaitu alat-alat untuk menyampaikan
suatu pesan
4. Langkah keempat ,perhatian dialihkan ke penerima
pesan. Dalam proses ini , penerima melakukan decoding, yaitu memberikan
penafsiran interpretasi terhadap pesan yang disampaikan kepadanya. Pemahaman
(understanding) merupakan kunci untuk melakukan decoding dan hanya terjadi
dalam dalam pikiran penerima.
5. Tahap terakhir dalam proses komunikasi adalah feedback
atau umpan balik yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali pesan
yang telah disampaikannya kepada penerima. Umpan balik inilah yang dapat
dijadikan landasan untuk megevaluasi efektivvitas komunikasi (Sendaja,
2002:4.7)
2.3. Pandangan Terhadap Komunikasi
1. Komunikasi sebagai aktifitas simbolik
Karena aktifitas berkomunikasi menggunakan
symbol-simbol bermakna baik verbal maupun nonverbal. Symbol komunikasi ini
dapat berbentuk tindakan dan aktifitas manusia, atau tampilan objek yang
mewakili makna tertentu. Makna dalam hal ini adalah persepsi, pikiran atau
perasaan yang dialami seseorang yang pada gilirannya dikomunikasikan kepada
orang lain.
2. Komunikasi sebagai proses
Karena komunikasi adalah aktifitas dinamis,
aktifitas yang terus berlangsung secara berkesinambungan sehingga terus
mengalami perubahan.
3. Komunikasi sebagai pertukaran makna
Kegiatan komunikasi merupakan kegiatan mengirim atau
menerima pesan , namun pesan sama sekali tidak berpindah, yang berpindah adalah
makna dari pesan tersebut.
2.4. Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi antar pribadi adalah
berkomunikasi dengan seseorang secara informal dan tidka berstruktur. Dalam
kenyataannya, proses komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh factor-faktor
personal maupun kelompok. Factor-faktor personal yang mempengaruhi komunikasi
antar pribadi antara lain adalah factor kognitif seperti konsep diri, persepsi,
sikap, orientasi diri, dan harga diri. Di dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari, hubungan antar pribadi memainkan peran penting dalam membentuk
kehidupan masyarakat, terutama ketika hubungan antar pribadi itu mampu
memberikan dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan dengan perasaan,
pemahaman informasi, dukungan dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi
citra diri orang serta membantu orang untuk memahami harapan-harapan orang
lain,.
Namun demikian, individu yang
mempengaruhi proses komunikasi tidak lepas dari pengaruh kelompoknya baik yang
primer maupun sekunder, termasuk pula pengaruh media massa terhadapnya.
Walaupun komunikasi individu tidak terlepas dari pengaruh kelompok, namun
konsep komunikasi ini hanya melihat apa konten dari komunikasi yang dibangun
oleh individu masing-masing. Hal ini berbeda dengan komunikasi kelompok, dimana
kontennya dipengaruhi oleh motivasi bersama dalam kelompok. Dalam memberdayakan
pranata social yang ada di desa diperlukan komunikasi baik secara interpersonal
(individu dengan individu) maupun komunikasi kelompok.
2.5. Komunikasi Kelompok
merupakan komunikasi diantara sejumlah orang ( kecil
: 4-20 orang, besar: 20-50 orang) di dalam sebuah kelompok. Karakteristik
komunikasi dalam kelompok ditentukan melalui dua hal, yaitu norma dan peran.
Norma adalah kesepakatan dan pengkajian tentang bagaimana orang-orang dalam
suatu kelompok berhubungan dan berperilaku satu dengan lainnya. Peran adalah
aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peran
(soekanto, 2002:242)
Proses-proses yang terjadi dalam komunikasi kelompok
memungkinkan unsur-unsur kebudayaan, norma sosial, kondisi situasional, tatanan
psikologi, sikap mental, konteks tradisi cultural, maupun pengaruh ritual
semuanya berproses dan turut menentukan proses-proses komunikasi ini.
Dengan demikian, komunikasi kelompok merupakan
proses yang sistematik dan terstruktur serta membentuk suatu sistem yang
terdiri dari komponen-komponen sistemnya, seperti konteks komunikator, konteks
pesan, dan konstruksi ide, konteks pola interaksi, konteks situasional,konteks
sikap-sikap individu terhadap kelompok dan konsep toleransi yang ada dalam
kelompok itu sendiri. Karena itu dalam memahami komunikasi kelompok, maka yang
diperlukan adalah pemahaman tentang budaya, nilai-nilai, sikap dan keyakinan
komunikator, konteksnya, orientasi cultural kelompok,lingustik kelompok, dan
serangkaian factor psikologis.
2.6. Komunikasi budaya
Dalam komunikasi budaya diajarkan tentang kearifan
local yang merupakan salah satu dimensi dari desa berketahanan social yaitu
mampu memelihara kearifan local dalam mengelola sumber daya alam dan sumber
daya social. Dalam rangka mencapai dimensi tersebut kita perlu mengetahui apa
manfaat dari kearifan local itu sendiri. Banyak yang sepakat bahwa sesungguhnya
tradisi-tradisi local dan kebudayaan local (kearifan local) sarat dengan
nilai-nilai humanistik, yang jika tidak terkontaminasi dengan nilai-nilai luar
masih efektif sebagai solusi konflik. Dan jika kearifan local tetap dipelihara
,dapat menunjang salah satu dimensi desa berketahanan social, yaitu mampu
mengendalikan konflik social/ tindak kekerasan social. Oleh karena itu
diperlukan komunikasi yang efektif dalam menjaga kearifan local tersebut. Dalam
kebudaayaan Jawa, misalnya prinsip harmoni , hingga saat ini diduga menjadi
salah satu kekuatan yang bisa meredam konflik yang eksplosif. Inilah sebabnya
mengapa di wilayah subkultur Mataram kadar konflik social relative rendah
meskipun secara politik dan ekonomi potensial untuk konflik.
Humaniora yang bersumber dari kearifan local semacam
itu, kiranya juga dimiliki oleh setiap kebudayaan di daerah. Oleh karena itu,
pelbagai upaya untuk mengidentifikasi nilai-nilai local yang humanistic perlu
dilakukan , untuk kemudian diinternalisasikan melalui pendidikan keluarga
maupun pendidikan sekolah. Reaktualisasi kearifan local semacam ini lambat laun
juga akan menjadi dasar dalam etika pergaulan social. Dan oleh karena kearifan
local itu sarat mengandung humanism maka akan dapat terjadi cross cutting dalam
pergaulan kebudayaan antar daerah di lingkup nasional, sebab humanisme bersifat
universal. Proses ini nantinya akan menimbulkan perimpitan antar nilai dari
pelbagai daerah sehingga potensial menjadi identitas kebudayaan nasional.
2.7. Komunalisme Desa
System kehidupan komunal merupakan watak
dasar desa mengacu pada tipikal paguyuban yang terjadi dalam proses social dan
politik desa. Paguyuban dimaksudkan pada tata hubungan masyarakat desa sebagai
keluarga besar dimana diliputi kehendak alami seperti nilai sentimen, tradisi
dan ikatan umum yang mengatur basis hidup dan sumber daya komunal. Istilah
sumber daya menunjukkan banyak aspek penting yang menghubungkan dinamika
komunitas dan isu-isu jaminan social dan ekonomi desa. Sumber daya bisa berarti
asset, hak milik, pruduk, sarana-sarana, kepunyaan, kemakmuran dan modal. Ini
mengarah pada suatu asumsi dasar bahwa system kekeluargaan, kekerabatan dan
kesetiakawanan memainkan peran penting dalam penyediaan jaminan social dan
ekonomi di desa.
Karakteristik komunalisme desa juga
terkait, dengan adanya unsur-unsur yang menjadi kekuatan social desa . Diantaranya
solidaritas social, keswadayaan ekonomi, kemandirian politik, dan kekhasan
budaya. Pada konteks ini diyakini bahwa dinamika masyarakat desa yang berwujud
inisiatif, prakarsa, partisipasi dan emansipasi warga merupakan proses social
dan politik yang khas berlangsung di desa. Hal tersebut di atas masuk dalam
konteks kearifan local yang dimiliki desa.
Arti komunikasi yang efektif Seluruh
proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat
ketercapaian tujuan komunikasi,yakni sejauh mana para partisipan memberikan
makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan, itulash yang dikatakan
efektifitas komunikasi. Komunikasi yang efektif terjadi jika muncul mutual
understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan
saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana
orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan merespon pesan yang
diterima. Satu hal yang perlu diingat bahawa timbal balik anatara sender
(pengirim pesan ) dan receiver (penerima pesan) tidak sama dengan pernyataan
setuju, tetapi hanya sebatas menyatakan bahwa dua pihak sama-sama mengerti
makna dari pesan yang dipertukarkan itu.
Berikut ini adalah beberapa konsep yang berkaitan
dengan efektifitas komunikasi, yaitu bahwa komunikasi yang efektif harus
memperhatikan beberapa syarat (Saudra Hybels and Ricard L .Weaver II, 1992)
yaitu:
1. Jenis keterampilan komunikasi macam manakah yang
paling banyak dibutuhkan
2. Jenis keterampilan komunikasi manakah yang
dirasakan paling sulit
3. Jika ada kesulitan maka dimanakah seseorang dapat
memperoleh bantuan
4. Dan kapan jadwal yang tepat untuk memperbarui
keterampilan berkomunikasi?
Beberapa aspek yang berkaitan dengan efektifitas
komunikasi ( William Gudykunts, 1991) yaitu:
1. Kemampuan untuk memisahkan secara jelas
cara-cara, mendeskripsi, interpretasi dan cara mengevaluasi pesan
2. Kemampuan untuk menggunakan umpan balik
3. Kemampuan untuk mendengarkan secara efektif
4. Kemampuan bermetakomunikasi Iklim komunikasi
Gudykunts (1977) mengatakan bahwa iklim komunikasi adalah suasana kebatinan
saat komuniksi itu berlangsung. Sekurangmkurangnya iklim komunikasi ditentukan
oleh tiga dimensi yaitu :
1. perasaan positif, dimana dimensi ini berisi
perasaan adil, menyenangkan, aman, menerima dan tingkat kecemasan yang rendah
2. kognitif, dimensi ini meliputi derajat
kepercayaan yang kita bawa dalam suasana komunikasi seperti adanya harapan,
kepastian, pemahaman, dan memenuhi hasrat ingin tahu
3. dimensi perilaku terlihat dalam tindakan dan
keterampilan saat berkomunikasi melalui kata dan perbuatan Wiseman and Hammer
(1977) juga menegaskan bahwa untuk mengatasi iklim komunikasi dapat dilakukan
dengan cara menciptakan “kebudayaan ketiga” yang lebih netral agar dua pihak
dapat menerimanya. Indikasi terciptanya efektifitas komunikasi yaitu:
1. hadirnya iklim yang tidak mengancam
2. terbukanya pintu komunikasi
3. adanya pengelolaan percakapan yang lebih baik
4. dan terwujudnya relasi yang memuaskan kedua belah
pihak
Dengan kata lain, dalam rangka menciptakan ”budaya
ketiga” itu, kita harus cepat mengidentifikasi factor-faktor pembentuk
komunikasi yang positif.
BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN DAN SARAN
Kehidupan manusia ditandai oleh dinamika
komunikasi. Seluruh umat manusia di dunia benar-benar menyadari bahwa semua
kebutuhan hidupnya hanya dapat dipenuhi jika dia berkomunikasi dengan orang
lain. Pada akhirnya seluruh proses komunikasi menggantungkan keberhasilan pada
tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan
memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Untuk dapat
mewujudkan desa yang berketahanan sosial, komunikasi dan interaksi adalah salah
satu faktor yang krusial.
Fokus interaksi sosial dalam masyarakat adalah
komunikasi itu sendiri, dan komunikasi menjadi unsure penting dalam seluruh
kehidupan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Sajogjo, Sajogjo Pudjiwati.
2007. Sosiologi Pedesaan kumpulan Bacaan Jilid2.Yogyakarta.Gajahmada University
Press
Ali, Madekhan.
2007. Orang Desa Anak Tiri Perubahan.Lamongan.Averroes Press
Liliweri,Alo.
2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. LKiS Yogyakarta
Rahmat,
Jalaludin.
. Sosiologi Komunikasi
Langganan:
Postingan (Atom)